Narkoba, pembunuh!!
Karya Annafi
Awantagusnik
Seperti biasanya
aku berangkat sekolah
bersama dengan sahabatku,
Lita namanya. Aku
mengenalnya sejak aku
dan dia TK,
dan sekarang Tuhan
mempertemukan kami kembali
di bangku SMP. Setiap aku
mempunyai masalah dalam
keluargaku selalu dia
yang bersedia menampung
semua kesedihanku, namun
yang tidak aku
mengerti sampai sekarang
kenapa dia tak
pernah mau membagi
kesedihannya denganku. Menurut
kebanyakan temanku di
sekolah Lita mempunyai
banyak masalah dalam
keluarganya. Namun, aku tak
bisa menerimanya dengan
mentah karena Lita
sahabatku dan aku
lebih mengenalnya daripada
yang lain.
“ Lit.............. Berangkat yuk.......”
“ Ok. Sebentar ya....... aku
mau menyiapkan bekal
untuk kita bersama”
“ Iya. Aku
tunggu di luar
ya”
Beberapa
menit aku menunggunya, tiba-tiba
tak sengaja aku mendengar
suara orang tua Lita
yang sepertinya sedang bertengkar.
“ Pyar!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” suara
pecahan vas bunga,
seketika aku langsung
berdiri tersontak.
“ Ayo cepat
kita berangkat, sepertinya
kita sudah terlambat!”
kata Lita sambil
langsung menggandeng tanganku
dan menarikku.
“ Apakah ini
yang membuat Lita
tak pernah terbuka
denganku?????” pikirku dalam
hati.
Hari ini
merupakan waktunya pelajaran
tentang narkoba, namun
baru saja bel
berbunyi Lita tertidur
pulas di sampingku.
Entahlah aku tak
pernah melihatnya tertidur
sepulas ini.
“ Aku biarkan
dia tidur saja.
Mungkin kemarin malam
dia begadang” kataku dalam hati
“
Selamat pagi anak-anak.........”
“
Selamat pagi bu...........”
Bu Indah pun
mengawali hari ini dengan
pelajaran narkoba. Di tengah perkataan
Bu Indah, Lita terbangun dan
seketika segera mengikuti
pelajaran.
“ Dampak dari
narkoba salah satunya
bisa membuat pengonsumsinya menjadi
bahagia sehingga banyak
diantaranya yang ingin
membelinya”
Mata
Lita yang semula
sedang terkantuk tiba-tiba
terbuka lebar, entah
apa yang membuatnya
begitu.
“
Narkoba........” kata itu
tiba-tiba keluar dari
mulut Lita yang
sedari tadi diam.
“ Kenapa Lit dengan
narkoba?
“ Hmmmm, gak papa
kok”
Hanya tanda tanya
yang terus menambah
koleksi tanda tanyaku
tentang Lita, tapi
tak apalah mungkin
ia baru mendengar
istilah narkoba. Kutujukan
perhatianku kembali kepada
materi yang diberikan
Bu Indah.
Esoknya, Lita
terus menanyaiku tentang
narkoba. Itu membuatku
naik pitam karena
tak henti-hentinya ia
menanyaiku.
“ Lita! Kamu
itu kenapa sih?!” aku
langsung meninggalkannya sendiri
di belakangku.
Namun,
ia tak mengejarku
bahkan berbalik berjalan
menjauhiku.
Keesokannya, aku
pagi-pagi sekali berangkat
menyusul Lita ke
rumahnya. Aku tak
mau dia terus
marah kepadaku karena
kejadian kemarin.
“
Lit.............”
“ Non Litanya
sudah berangkat non..........”
“ Hah, sudah
berangkat? Padahal ia
tak pernah berangkat
sepagi ini?” tanyaku dalam
hati
“ Oh, iya
bi......... terima kasih
ya......” jawabku
Sesampainya di
sekolah, Lita tak ada.
Sepuluh menit, dua
puluh menit, sampai
bel masuk dia
tak ada.
“ Kemana
dia?? Padahal Bibi
bilang sudah berangkat.....”
Sejak kejadian
itu, seminggu sudah
Lita tak masuk
sekolah. Tak ada
surat izin, tak
ada kata-kata darinya
kepadaku.
Hari ini
seperti seminggu sebelumnya,
aku pulang sendiri.
Sesampainya di rumah,
langsung kurebahkan punggunggku
di kasur sambil
melihat televisi.
“ Hari ini,
polisi telah membekuk
remaja yang sedang
pesta narkoba di wilayah
Jakarta”
“
Ha?????????? Narkoba ???????????”
Terdengar
mobil polisi melintas
di depan rumahku,
dan mobil itu
melintas kembali bersama
tangisan seorang Ibu,
yang suaranya kukenal.
“ Ibunya Lita!!!!!!!!!!! Lita???? Polisi???????
Berita????????? Lita memakai
narkoba????????!!!!!!!!!!!!!!!”
Ternyata
benar, salah satu
remaja yang berpesta
narkoba adalah Lita.
Sekarang aku menemuinya
di tempat rehabilitasi.
“
Lit...........”
Lita tak menjawab
“ Aku minta
maaf Lit...........”
Sebulan
sudah, aku berkata
itu kepadanya sampai
akhirnya dia sudah
mulai sadar dari
pengaruh barang haram
itu.
“ Lit............,
Aku minta maaf........”
“ Itu bukan
salah kamu kok..........”
“
Sebenarnya masalah kamu
apa?”
“
Hmmmmm, bukan apa-apa
kok.....”
Kekecewaan
kembali mengisi hatiku,
namun aku tak
bisa memaksanya karena
itu masalah pribadinya.
Setelah hal
ini, aku mendengar
bahwa di tempat
rehabilitasi itu polisi
telah membekuk sebuah
pesta narkoba.
“ Di tempat
rehabilitasi kok ada
pesta narkoba sih............, bagaimana
dengan Lita?????”
Ketika
aku akan berangkat
sekolah, aku melintasi
rumah Lita.
“
Tidak!!!!!!!!!!!!!
Lita!!!!!!!!!!!”
“ Itu teriakkan
ibunya Lita...........” kataku
sambil langsung msuk
ke pagar rumah
Lita
Ibunya
Lita, yang melihatku
sontak langsung memelukku.
“ Kenapa tante?”
“ Lita meninggal
nak..............”
“
Apa?????? Tidak mungkin.............”
“ Dia overdosis narkoba......”
“ Innalillahi
wainnailaihi
roji’un...............”
kataku sambil berlinangan
air mata
Ibunya Lita
menceritakan semua permasalahan
Lita, seperti kedua
orang tuanya yang
selalu bertengkar dan
Lita yang tak
pernah dianggap oleh
kedua orangtuanya.
“ Tante merasa
bersalah nakkkkk.................”
“ Sudah tan......
ini sudah takdir.”
Tangisan mengantarkan
kepergian sahabatku, Lita.
Aku tak bisa
membayangkan kehidupanku selanjutnya
tanpa dia. Setelah
semua orang pergi
dari makam Lita, tinggal
aku yang terus
menangisi kepergiannya.
“
Lita............., jaga dirimu
disana ya................. kamu
pasti sekarang ada
di surga kan?
Temani aku Lit........... aku
tak bisa hidup
sendiri tanpa seorang
sahabat. Kenapa kamu
bisa mengonsumsi narkoba?
Bu Indah bilang kan
itu berbahaya............” kataku
penuh penyesalan dan
tangisan.
“ Ya sudah
Lit....... aku pamit pulang ya...........”
Akupun
pulang dengan berat
hati meninggalkan Lita.
Sejak kejadian itu,
Narkoba merupakan hal
yang paling kutakuti
sekaligus paling kubenci.
lumayan seru critax, terus berkarya ya...semangat :D
BalasHapusappik mba' ceritanya...
BalasHapusTerima kasih ya komentarnya...... :D
BalasHapus